Selasa, 04 Oktober 2011

Sejarah Sekolah Minggu

Sekolah minggu merupakan kegiatan bersekolah yang diadakan pada hari minggu didalam gereja yang ditujukan untuk anak-anak. Banyak denominasi gereja yang mengajarkan pelajaran keagamaan di dalam Sekolah Minggu. Bisa dikatakan sekolah minggu adalah wadah pendidikan anak-anak Kristen. Tujuan akhir dari sekolah minggu sendiri ialah menjadikan anak-anak berakhlak mulia (moral yang baik) sesuai dengan ajaran Kristus (Alkitab).
Tujuan akhir dari pengaajaran sekolah minggu ini telah muncul dari sebuah gagasan seorang wartawan Inggris yang sesungguhnya telah ada di Alkitab. Wartawan ini bernama “Robert Raikes” ia dikenal sebagai bapak sekolah minggu. Berawal dari sebuah perasaan iba terhadap kelakuan anak-anak nakal di hari minggu,maka tercipta suatu sejarah yang sangat fenomenal.  
Apabila melihat lebih jauh kedalam tentang sejarah sekolah minggu sesungguhnya embrio pendidikan anak telah ada sejak zaman PL. Pengajarannya dimulai di lingkungan keluarga orang yahudi pada zaman Musa (Ul. 6:4-7). Tujuannya pun juga sama dengan gagasan yang muncul dalam benak Raikes pada waktu revolusi industry di Inggris terjadi.
Dimana pada waktu itu merupakan masa transisi dari tenaga manusia ke tenaga mesin uap. Masa ini memaksa anak-anak meninggalkan bangku sekolah hanya untuk bekerja dengan gaji yang sangat minim.  Sehingga hal itu membuat aklhak anak-anak menjadi rusak karena orang tuapun juga sibuk dengan mencari nafkah. Justru dalam kondisi yang memprihatinkan ini tangan Tuhan bekerja dengan luar biasa sehingga tercipta sejarah sekolah minggu.

A.    Embrio Sekolah Minggu
Sebelum muncul istilah sekolah minggu pendidikan anak  sudah berjalan sejak zaman PL. Embrio sekolah minggu itu sudah nampak dalam Ul. 6:4-6 yang bisa dikatakan sebagai dasar pendidikan anak. Menurut ALkitab pendidikan anak pada masa Musa itu sepenuhnya dilakukan dalam lingkungan keluarga. Sejak sebelum usia 5 tahun anak telah dididik oleh
orang tuanya untuk mengenal Allah Yahweh.[1]
Pada masa pembuangan di Babilonia (500 SM), ketika Tuhan menggerakkan Ezra dan para ahli kitab untuk membangkitkan kembali kecintaan bangsa Israel kepada Taurat Tuhan, maka dibukalah tempat ibadah sinagoge dimana mereka dapat belajar Firman Tuhan kembali, termasuk diantara mereka adalah anak-anak kecil. Orangtua wajib mengirimkan anak-anaknya yang berusia di bawah 5 tahun ke sekolah di sinagoge. Di sana mereka dididik oleh guru-guru sukarelawan yang mahir dalam kitab Taurat. Anak-anak dikelompokkan dengan jumlah maksimum 25 orang dan dibimbing untuk aktif berpikir dan bertanya, sedangkan guru adalah fasilitator yang selalu siap sedia menjawab pertanyaan-pertanyaan mereka.[2]
Ketika orang-orang Yahudi yang dibuang di Babilonia diizinkan pulang ke Palestina, mereka meneruskan tradisi membuka tempat ibadah sinagoge ini di Palestina sampai masa Perjanjian Baru. [3] Pada masa Perjanjian Baru tradisi ini juga masih berjalan dan Yesus juga pernah menikmati pengajaran didalam Sinagoge. Bahkan pada masa rasul-rasul, tradisi pendidikan anak masih tetap berlangsung (1 Timotius 3:15). Namun proses pendidikan anak perlahan-lahan tidak lagi dipusatkan di Sinagoge tetapai sudah mulai di gereja tempat jemaat berkumpul.[4]
       Dari berbagai sumber yang ada terlihat jelas bahwa embrio sekolah minggu sudah ada sejak masa PL maupun PB. Hanya saja karena adanya pergeseran decade maka pendidikan anak mulai tersisih.
B.     Lahirnya Sekolah Minggu
Pra-Sekolah Minggu
Berawal dari perkembangan teknologi yang menyebabkan pergeseran tenaga kerja manusia ke tenaga mesin uap. Penemuan mesin uap  yang seharusnya menjadi dampak yang positif ternyata justru sebaliknya. Mungkin bagi para pengussaha hal ini merupakan dampak yang positif namun bagi kaum miskin menjadi suatu dampak yang negatif.
Masa perkembangan ini lebih dikenal dengan istilah “Revolusi Industri” dan revolusi ini berpusat di Inggris pada pertengahan abad ke-18. Revolusi industri memaksa para orang tua bekerja mati-matian untuk mencukupi kebutuhan keluarganya. Dan yang lebih menyedihkan ialah anak-anak terpaksa meninggalkan zona yang semestinya mereka berada yaitu sekolah. Karena kebutuhan ekonomi akhirnya para anak-anak bekerja di pabrik-pabrik dengan upah yang minim. Mereka kehingan masa-masa yang seharusnya mereka bisa bercanda dan bermain bersama keluarga dan teman.
Tentunya hal ini melahirkan tingkat criminal di Inggris terus meningkat yang sangat mempengaruhi generasi bangsa. Akan tetapi pada waktu itu perintahan di Inggris hanya terfokus pada pemberantasan dan memberikan hukuman tanpa mencari tahu penyebab utamanya. Padahal penyebab utamanya ialah tidak adanya pendidikan anak yang layak. Karena pendidikan anak itu sangatlah penting untuk perkembangan moral dan intelektual bagi si anak itu sendiri.
Dan ini membuat hati  seorang wartawan media cetak di Gloucester Inggris tergerak untuk menyelesaikan masalah ini. Ia adalah “Robert Raikes”. Awalnya ia hanya terfokus pada para narapidana yang dipenjara. Karena terlalu tinggi tingkat kriminalnya menyebabkan penjara itu penuh. Raikes mengambil langkah dengan cara melakukan pendekatan langsung dan ia juga mengambil beberapa persen hasil penjualan korannya untuk biaya para narapidana. Bagi Raikes narapidana di Gloucester ini adalah korban atas revolusi industri.
Tidak hanya itu saja yang dilakukan oleh Raikes akan tetapi ia juga melakukan Kritik kepada pemerintah melalui surat kabar yang dicetaknya. Bahkan Adam Smith “rasul” Kapitalisme juga meluncurkan kritikan terhadap pemerintah Inggris. Dalam karangannnya yang termasyhur yaitu “An Inquiry into the Nature and Causes of the Wealth of Nation”, ia berdalil bahwa kekayaan Inggris terdiri atas tenaga kerja  dan bukan beratnya  emas dan juga tidak pada kekayaan yang berporos pada sejumlah hektar lahan yang dimilkinya. Kata Smith “setiap orang cenderung mencari keuntunganya sendiri”.[5]Namun usahanya tetap tidak di perhatikan oleh pemerintah.
Akan tetapi usaha Robert Raikes ini membuahkna hasil meskiun tidak maksimal. Yaitu ada beberapa narapidana yang keluar telah bertobat, tapi hal itu belum menyelesaikan masalah. Karena inti masalahnya belum diketahui.
Berdirnya Sekolah Minggu
Hingga suatu hari Rakes menemukan masalah utamanya yaitu pendidikan anak. Hal ini berawal ketika hari minggu Raikes sedang dikantor dan melihat anak-anak yang rebut dari jendela kantonya. Waktu Raikes terkejut karena kelakuan mereka sangatlah buruk dan suka mengolok teman.[6] Dari kejadian ini Tuhan menunjukkan kepada Raikes apa yang mesti dilakukan untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi di Inggris. Akhirnya munculah gagasan Raikes untuk memberikan pengajaran bagi mereka. Namun karena kesibukan Raikes kesulitan untuk mengajarkan mereka.
Namun rasa yang iba setelah melihat para anak-anak berkerja selama 6 hari dengan gaji yang minim telah menjadi motivasi yang kuat. Karena kuatnya motivasi ini membuat Raikes memiliki gagasan untuk membayar seorang ibu Meredith  di kota Scooty Alley untuk mendidikan beberapa anak di sekolah sederhana Raikes. Awalnya anak-anak diajarkan sopan santun, kebersihan, membaca, menulis, dan sebagainya. Perkembangan selanjutnya mulai diajarkan ajaran-ajaran Alkitab. Namun guru itu akhirnya menyerah karena tidak mampu mengajar mereka. Tapi muncullah seorang guru yang ke-2 yang bernama Ibu Crithchey. Ia lebih pintar dan jabatan guru turun temurun terus.
Aturan pun akhinya dibuat pelajaran dimulai jam 10:00 – 12:00 pulang makan siang dan pukul  13:00 – 17:00 pelajaran dilanjutkan kembali. Ternyata hasilnya positif jumlahnya semakin meningkat dan moral mereka semakin membaik. Dalam pengajarannya Raikes lebih menekankan pada moral atas dasar Alkitab.
Akhirnya Raikes membuatnya di gereja “Saint Mary de Crypt”. Dan teman Raikes yang bernama Thomas Stock, pendeta “Saint John the Baptist” yang merangkap jabatan kepala sekolah Katedral di Gloucester, menjelaskan bahwa gagasan dan pendirian sekolah minggu pertama terjadi didalam jemaatnya sendiri sebagai usaha kerja sama antara ia dengan Raikes. Demikianlah isi surat yang dikirmnya di surat kabar.[7]
Sekolah minggu yang telah berkembang ini mendapat kecaman keras dari para pengusaha karena mereka takut kalau buruhnya akan pergi dari pabriknya. Meraka juga mencari-cari kesalahan dengan jalan bahwa Raikes bukan orang saleh karena ia bekerja di hari sabat. Namun Raikes telah menepisnya dengan ayat Firman Tuhan (Mrk.2:28 ; Mat. 12:12).[8]
Namun hal itu tidak menyurutkan usaha Raikes untuk lebih mengembangkan Sekolah minggu. Salah satu langkah Raikes ialah dengan surat kabarnya. Dan akhirnya sekolah minggu justru semakin berkembang. Dalam waktu empat tahun sekolah yang diadakan pada hari Minggu itu semakin berkembang bahkan ke kota-kota lain di Inggris. Dan jumlah anak-anak yang datang ke sekolah hari minggu terhitung mencapai 250.000 anak di seluruh Inggris.
Ketika Robert Raikes meninggal dunia tahun 1811, jumlah anak yang hadir di Sekolah Minggu di seluruh Inggris mencapai lebih dari 400.000 anak. Gerakan di Inggris ini akhirnya menjalar ke berbagai tempat di dunia, termasuk negara-negara Eropa lainnya dan ke Amerika.[9]
            Namun yang lebih mengesankan ialah angka kejahatan di Inggris menurun drastis dan hal inilah yang menyebabkan usaha Raikes ini mendapat dukungan yang banyak dari masyarakat.

C.    Tokoh Sekolah Minggu “Robert Raikes
Robert Raikes (lahir 14 September 1736 – meninggal 5 April 1811 pada umur 74 tahun) adalah seorang dermawan Inggris yang dikenal sebagai bapak pendiri Sekolah minggu. Ia lahir di Gloucester pada 1736, anak sulung dari Mary Drew dan Robert Raikes seorang penerbit surat kabar. Dia dibaptis pada tanggal 24 September 1736 di gereja St. Mary de Crypt di Gloucester. Pada 23 Desember 1767 dia menikah dengan Anne Trigge dari keluarga yang sangat terhormat, dan dikaruniai tiga anak laki-laki dan tujuh anak perempuan.
Ia menyelesaikan pendidikan dasarnya di sekolah milik Gereja St. Mary de Crypt tempat ia dibaptiskan. Setelah lulus pendidikan dasar, pada usia empat belas tahun ia melanjutkan studi di sekolah Katedral Gloucester. Suasana sekolah ini begitu ketat. Anak-anak dididik dengan kurikulum yang klasik. Pada pukul enam pagi, mereka mengawalinya dengan ibadah. Ibadah dimulai dengan pembacaan mazmur, doa, renungan, dan nyanyian rohani. Di sekolah ini, para murid dituntut menguasai beberapa bahasa, antara lain bahasa Yunani, Latin, dan Prancis.
Setelah menyelesaikan pendidikan di Katedral Gloucester, Raikes tidak melanjutkan pendidikannya. Ia lebih tertarik pada pekerjaan yang digeluti ayahnya di bidang percetakan. Pada 1757 ia diwariskan perusahaan milik ayahnya yakni Gloucester Journal. Karena kemampuannya di bidang penerbitan dan percetakan, pada usia 21 tahun, ia telah mengambil alih seluruh urusan yang berkaitan dengan penerbitan Gloucester Journal.
Robert Raikes dikenal sebagai penggagas sekolah minggu. Pada abad 18, Inggris sedang dilanda krisis ekonomi yang sangat parah sebagai akibat Revolusi Industri. Robert Raikes melihat banyak anak-anak yang harus menjadi tenaga kerja di pabrik-pabrik sebagai buruh kasar, dan bekerja enam hari dalam seminggu, yaitu pada hari senin hingga sabtu. Hari minggu mereka libur. Karena hanya pada hari minggu saja mereka bisa beriang gembira, sehingga pada hari minggu mereka menjadi liar. Kebanyakan mereka menghabiskan uang penghasilan mereka dengan hal-hal yang tidak berguna seperti minum minuman keras.
Melihat keadaan itu Robert Raikes bertekad untuk mengubah keadaan. Ia kemudian memulai sekolah minggu ini di dapur Ny. Mederith di kota Scooty Alley pada Juli 1780. Di sana selain mendapat makanan, anak-anak itu juga diajarkan sopan santun, membaca, dan menulis. Menurut Raikes buku pelajaran yang terbaik yang bisa dipakai adalah Alkitab. Dalam dua tahun, sekolah minggu dibuka di beberapa sekolah dan di sekitar Gloucester. Raikes kemudian mempublikasikan sekolah minggu melalui Gentleman's Magazine, dan juga Arminian Magazine pada 1784. Akhirnya atas bantuan John Wesley (pendiri Gereja Methodis), kehadiran sekolah minggu diterima juga oleh gereja, mula-mula oleh Gereja Methodis, akhirnya gereja-gereja Protestan lain. Pada tahun 1831, sekolah minggu di Inggris telah mengajar 1.250.000 anak, sekitar 25 persen dari populasi.[10]
D.    Perkembangan Sekolah Minggu
Melihat keberhasilan Raikes, gereja kemudian mengambil alih model pelayanan itu menjadi pekabaran Injil. Di abad ke-20 muncul bahan mengajar pelajaran sekolah minggu yang berjenjang, dan mulai terjadi pergeseran dari maksud utama untuk pekabaran Injil menjadi ajang pembinaan. Gereja memakai pembinaan ini menjadi alat yang efektif dalam mengarahkan anak-anak kepada Kristus.
Akhir abad ke-19 sampai awal ke-20, muncul kesadaran untuk menangani Sekolah minggu secara lebih professional. Ilmu pendidikan mulai diterapkan. Pada tahun 1922 berdirilah “Internasional Sunday School Council of Religious Education”, yang pada tahun 1924 berubah nama menjadi “The Internasional Council of Religious Education”. Dengan berdirinya ke 2 lembaga tersebut, Sekolah minggu menjadi semakin maju, dengan teori-teori pendidikan yang modern, yang lebih berpusat pada anak dan bukan lagi berpusat pada guru.[11]
Kesimpulan
Berawal dari revolusi Industri yang membuat pola hidup di Inggris berubah drastis. Dari tenaga kerja manusia dan hewan manjadi tenaga mesin. Hal ini menimbulkan masalah bagi kaum buruh yang mengakibatkan para anak-anak tidak bisa bersekolah. Sehingga mereka mengalami kemerosotan moral.
Dari peristiwa inilah Raikes memilki gagasan untuk memperbaiki moral mereka. Karena telah terjadi peningkatan krimanalitas di Inggris. Dan untuk menyelesaikannya Raikes membuat sekolah minggu dengan dasar pengajarannya dari Alkitab. Sekolah minggu itu akhirnya berhasil merubah pola hidup mereka yang kurang bermoral.
Akhirnya Sekolah Mnggu itu terus dikembangkan di gereja-gereja berbagai denominasi. Sampai sekarang sekolah menjadi dasar fondasi hirarki sebuah gereja.


[1] G:\PEPAK _ Pustaka _ Sejarah Sekolah Minggu.htm
[2] G:\sejarah-sekolah-minggu.html
[3] www.wikipedia-indonesia /sejarah sekolah minggu.com
[5] Boehlke R Robert, Ph.D. Sejarah Perkembangan Pikiran dan Praktek Pendidikan Agama Kristen. Penerbit PT BPK GUNUNG MULIA. Cetakan ke-3 2005. Hal377
[6] Boehlke R Robert, Ph.D. Sejarah Perkembangan Pikiran dan Praktek Pendidikan Agama Kristen. Penerbit PT BPK GUNUNG MULIA. Cetakan ke-3 2005. Hal 383
[7] Boehlke R Robert, Ph.D. Sejarah Perkembangan Pikiran dan Praktek Pendidikan Agama Kristen. Penerbit PT BPK GUNUNG MULIA. Cetakan ke-3 2005. Hal 385
[8] Boehlke R Robert, Ph.D. Sejarah Perkembangan Pikiran dan Praktek Pendidikan Agama Kristen. Penerbit PT BPK GUNUNG MULIA. Cetakan ke-3 2005. Hal 392
[11] Pdt. Drs. Lie Paulus.Mereformasi Sekolah Minggu.penerbit ANDI offset, cetakan ke-6 2006 hal111-110

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar