Selasa, 04 Oktober 2011

Perannan Jiwa Kepemimpinan dalam Hati Para Guru Kristen


Mahasiswa Theologia (Pendidikan Agama Kristen) di design sedemikian rupa untuk menjadi seorang pengajar Kristen yang berkompeten dan memiliki kredibilitas seperti sang Guru Agung. Hal ini tentunya menjadi sasaran setiap perguruan tinggi yang memiliki jurusan Theologia (Pendidikan Agama Kristen). Pengajar Kristen yang saat ini lebih dikenal dengan istilah mentor atau yang lebih familiar disebut dengan guru. Apapun istilah yang digunakan tetap saja memiliki tugas dan tanggung jawab yang sama yaitu mentranferkan pengajaran Kristus yang dikemas dalam Alkitab kepada audiens.
            Dalam penyampaian pengajaran, para guru memiliki metode yang kreatif dan inovatif dengan tujuan supaya anak didiknya bisa menyukainya dan memahaminya. Tentunya untuk menciptakan ide yang kreatif dan inovatif ini para guru haruslah menyediakan banyak waktu dan pikiran, bahkan doa. Semua ide yang di tuangkan tidak terlepas dari yang namanya doa. Karena materi yang akan disampaikan adalah pikiran Allah yang telah di utarakan dalam Alkitab. Tetapi pengemasan yang kreatif dan inovatif dari para guru ini seringkali di hiraukan dan bahkan para pengajar tidak dihargai oleh para peserta didik. Baik itu dalam anak sekolah minggu, pembinaan remaja, pemuda dewasa, maupun orang tua.
            Dari berbagai masalah yang telah terjadi ini tentunya menimbulkan berbagai macam pertanyaan “mengapa ?. Pertanyaan ini wajar muncul dalam benak para pengajar yang benar-benar memiliki hati untuk mengajar. Pertanyaan tersebut melahirkan beraneka ragam penafsiran yang harus diuji di lapangan. Diantanya “apakah metode yang diterapkan tidak tepat, memaksakan kehendak guru, atau pengajaran sendiri yang memiliki masalahnya. Ada 2 garis besar penyebab kenapa peserta didik menghiraukan ajaran atau bahkan tidak menghargai pengajar. 2 hal itu ialah internal dan eksternal. Internal berarti masalah ini timbul dari guru sendiri tapi kalau eksternal masalah ini timbul dari peserta didik atau lingkungan atau fasilitas. Dari manapun timbulnya hal ini tetap menjadi PR besar bagi para pengajar yang memiliki tanggung jawab yang besar seperti yang tertera dalam Yak. 3:1
            Dalam pembahasan makalah ini hanya dibatasi pada masalah internal pengajar yang dispesifikan pada peranan jiwa kepemimpinan dari para pengajar itu sendiri. Logikanya kalau masalah internal belum bisa diselesaikan tentunya masalah yang eksternal itu akan sangat sulit untuk diselesaikan. Perenan jiwa kepemimpin ini bisa dikatakan salah hal yang terpenting yang harus dimiliki seorang pengajar Kristen ialah seorang pengajar itu mengarahkan banyak orang. Setiap orang yang diajarkan itu tentunya akan mengikuti apa yang akan di ajarkan maupun sikap pengajar itu sendiri.
KEPEMIMPINAN
  1. Pengertian secara umum
Warren Bennis dan Burt Nanus, dua pakar telah membedakan antara pemimpinan dan manajer. Mereka mengatakan bahwa manajer melakukan segala sesuatu dengan benar , sedangkan pemimpin melakukan segalasesuatu yang benar.[1] Kepemimpinan meliputi proses mempengaruhi dalam menentukan tujuan organisasi, memotivasi perilaku pengikut untuk mencapai tujuan, mempengaruhi untuk memperbaiki kelompok dan budayanya.[2] Kepemimpinan tidak terlepas dengan yang namanya motivasi. Hal tersebut dapat dilihat dari keberhasilan seorang pemimpin dalam menggerakkan orang lain dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan sangat tergantung kepada kewibawaan, dan juga pimpinan itu dalam menciptakan motivasi dalam diri setiap orang bawahan, murid, maupun atasan pimpinan itu sendiri.
Berikut pendapat-pendapat tentang kepemimpinan menurut beberapa tokoh pemimpin :
  1. Kepemimpinan adalah pengaruh antar pribadi, dalam situasi tertentu dan langsung melalui proses komunikasi untuk  mencapai satu atau beberapa tujuan tertentu (Tannebaum, Weschler and Nassarik, 1961, 24).
  2. Kepemimpinan adalah sikap pribadi, yang memimpin pelaksanaan aktivitas untuk mencapai tujuan yang diinginkan. (Shared Goal, Hemhiel & Coons, 1957, 7).
  3. Kepemimpinan adalah suatu proses yang mempengaruhi aktifitas kelompok yang diatur untuk mencapai tujuan bersama (Rauch & Behling, 1984, 46).
  4. Kepemimpinan adalah kemampuan seni atau tehnik untuk membuat sebuah kelompok atau orang mengikuti dan menaati segala keinginannya.
  5. Kepemimpinan adalah suatu proses yang memberi arti (penuh arti kepemimpinan) pada kerjasama dan dihasilkan dengan kemauan untuk memimpin dalam mencapai tujuan (Jacobs & Jacques, 1990, 281).[3]
Dari beberapa pendapat diatas terlihat jelas begitu pentingnya peranan seorang pemimpin. Akan tetapi kepemimpinan tidak semata-mata diukur dari sebuah jabatan. Kepemimpinan adalah orang yang memiliki kemampuan untuk mempengaruhi dan mengarahkan orang yang dibawahnya.  Seringkali terdapat dalam sebuah organisasi seorang pemimpin (ketua) namun tidak memiliki kredibilitas pemimpin maupun kewibawaan. Tentunya dengan hal ini pemimpin akan kualahan dalam mengendalikan anggotanya.
Apalagi didalam organisasi tentunya terdiri dari beberapa anggota yang memiliki kepribadian yang berbeda-beda. Pemimpin memiliki tanggung jawab menyatukan keanekaragaman kepribadian anggota-anggotanya tersebut untuk mengarah kepada satu jalur yang sama (Visi). Banyak model kepemimpinan yang diterapkan pemimpin untuk mencapai visi.

Ciri-ciri seorang pemimpin :
1.      Memiliki pengikut
Seorang pemimpin tidak harus memiliki jabatan atau pangkat yang tinggi, tetapi memiliki pengikut.
2.      Visioner dan inovator
Pemimpin harus memiliki kepekaan untuk melihat visi yang tepat demi kelancaran kepemimpinannya. Seorang pemimpin mesti idealnya adalah pribadi yang visioner. Dalam arti, mampu membaca dan merespons tanda-tanda zaman secara bijaksana. Selain itu, ia mampu melihat yang lebih baik dan penting bagi kelancaran organisasinya. Hal ini memang membutuhkan daya kepekaan. Tanpa kepekaan seorang pemimpin tidak mampu bertindak sebagai inisiator. Pemimpin tidak semata-mata berfungsi sebagai to lead (memimpin) tetapi sekaligus to manage (mengatur/mengurus) dalam arti ia bersedia mendelegasikan kepemimpinan kepada bawahannya.[4]
3.      Motivator
Seorang pemimipin yang baik tentunya memahami dan mampu memberikan semangat kepada anggotanya. Apalagi ketika anggota dirundung suatu permasalahan yang bersifat traumatis maupun tidak. Dengan memberikan motivasi yang positif maka  anggotanya akan memiliki sikap yang baik baik dalam menghadapi masalah.
4.      Bijaksana dan tegas dalam mengambil keputusan
Tegas dan bijaksana, 2 hal ini tidak bisa terlepas dari seorang pemimpin untuk mengambil keputusan. Sebab apabila pemimpin mengambil keputusan hanya dengan tegas saja kemungkinan besar akan merugikan beberapa anggota dan rasa kekecewaan.
5.      Berkarakter baik (menjadi teladan dan bertanggung jawab)
Setiap tingkah laku seorang pemimpin akan menjadi acuan untuk anggotanya dalam melakukan tindakan. Karakter yang mulia sangatlah penting untuk dimiliki dan diterapkan dalam setiap kehidupan para pemimin. Bisa di katakan hal adalah sebagai gaya hidup seorang pemimpin.
6.      Menjadi penggerak (mempengaruhi)
7.      Pemersatu dan memanejemen
8.      Self-critical (introspeksi)
Zaman sekarang yang diharapkan dari setiap pemimpin adalah kemampuan dan kesediaannya untuk melakukan pemeriksaan batin: apakah kepemimpinannya mengarah pada jalur yang baik dan benar. Seorang pemimpin haru bersedia mengoreksi dirinya sendiri. [5]Sikap ini mencerminkan kerendahan hati seorang pemimjpin yang siap untuk dikritik untuk kemajuan.

Model Kepemimpinan Sekuler
1.                  Otokratis. Kepemimpinan seperti ini menggunakan metode pendekatan kekuasaan dalam mencapai keputusan dan pengembangan strukturnya. Jadi kekuasaanlah yang sangat dominan diterapkan.
2.                  Demokrasi. Gaya ini ditandai adanya suatu struktur yang pengembangannya menggunakan pendekatan pengambilan keputusan yang kooperatif. Di bawah kepemimpinan demokratis cenderung bermoral tinggi dapat bekerjasama, mengutamakan mutu kerja dan dapat mengarahkan diri sendiri.
3.                  Gaya kepemimpinan kendali bebas. Pemimpin memberikan kekuasan penuh terhadap bawahan, struktur organisasi bersifat longgar dan pemimpin bersifat pasif. [6]


  1. Kepemimpinan Kristen
Apabila berbicara tentang kepemimpinan Kristen tentunya tidak terlepas dari Sang Guru Agung. Hampir sama dengan kepemimpinan sekuler, hanya dasar dari kepemimpinan Kristen adalah Alkitab. Gaya yang digunakan juga berbeda dengan gaya kepemimpinan sekuler. Gaya kepemimpinan Kristen menitik beratkan pada gaya kehambaan. Hal ini sepertinya janggal akan tetapi inilah yang dilakukan oleh Yesus Kristus dalam memimpin dan mengajar para murid-muridnya.
Gaya kepemimpinan Yesus sangatlah kontrakdiksi dengan gaya kepemimpinan pada waktu itu yaitu kepemimpinan Romawi dan kepelimpinan Yunani, maupun ahli-ahli Taurat. Tuhan Yesus memiliki gaya yang unik yaitu Kepemimpinan Hamba yang berporos pada Kasih Agape. Gaya yang seperti inilah yang semestinya dimiliki oleh para pengajar masa kini. Tidak hanya mengandalkan inteletual semata, sebab inteletektual itu hanyalah intrumen Allah. Mengikuti teladan Yesus itulah kuncinya.
 Dari ajaran dan tindakan Tuhan Yesus Kristus, dapat ditemukan konsep-konsep yang mengandung prinsip-prinsip dasar kepemimpinan yang cemerlang. Prinsip-prinsip dasar tersebut dapat dilihat pada penjelasan berikut. Dari Injil Matius 20:20-28 dan Injil Markus 10:35-45, Tuhan Yesus menjelaskan prinsip/falsafah dasar kepemimpinan yang dapat diuraikan sebagai berikut.
1.      Kepemimpinan Kristen berpusat pada Allah. Oleh kedaulatan-Nya, Allah menetapkan dan memanggil setiap pemimpin kepada tugas dan tanggung jawab kepemimpinan (Matius 20:23b, Markus 10:40; band. Roma 12:6-8; Roma 8:29-30).
2.      Kepemimpinan Kristen dibangun di atas hubungan-hubungan sebagai landasan kerja dan keberhasilan kepemimpinan. Tuhan Yesus secara sengaja membangun kepemimpinan-Nya di atas hubungan-hubungan, di mana dengan terencana Ia memanggil para murid-Nya dan melibatkan mereka ke dalam "kehidupan kelompok" sehingga melalui wahana kelompok kecil tersebut mereka digembleng, diajar, dan dilengkapi untuk menjadi pemimpin (Matius 20:20-23; Markus 10:35-40; band. Matius 10: 1-15; Markus 3:13-19; Lukas 6:12-16).
3.      Kepemimpinan Kristen diteguhkan di atas model kepemimpinan "pelayan hamba" yang merupakan landasan etika-moral bagi kepemimpinan, serta pola dasar manajemen dalam kepemimpinan. Sebagai model dasar kepemimpinan, para pemimpin Kristen perlu membangun sikap etis-moral sebagai "pelayan yang melayani" dan "hamba yang mengabdi" -- yang merupakan landasan bagi etos kerja. Sebagai pola dasar manajemen, model kepemimpinan pelayan-hamba ini memberikan tekanan kepada kerja yang berorientasi kepada keberhasilan (Matius 20:24-28; Markus 10:42-45; band. Ibrani 13:7,17; Kolose 3:23; 1Petrus 2:18-25; Lukas 17:10).
4.      Kepemimpinan Kristen berfokus kepada "melayani" (service) dengan memberikan yang terbaik. Fokus melayani ini menegaskan perlunya komitmen dan tindakan untuk mewujudkan yang terbaik dengan membayar harga, serta konsekuensinya sehingga lebih banyak orang yang akan menikmati hasil/dampak kepemimpinan seorang pemimpin (Matius 20:28; Markus 10:45; Yohanes 21:15-19; Ibrani 13:17-21; 1Petrus 3:13-23; Lukas 17:10). Fokus melayani dari kepemimpinan TUHAN Yesus ini dibangun di atas tujuan dan sasaran yang jelas dan pasti, yaitu membawa "kebaikan tertinggi" (bagi umat manusia, dalam hal ini "orang banyak").
5.      Kepemimpinan Kristen memiliki "kasih Kristus" (2Korintus 5:13-14; 1Korintus 13; 1Yohanes 4:7-10) sebagai dinamika kepemimpinan yang mewarnai seluruh aspek kepemimpinan yang mencakup kinerja dan hasil/produk dari setiap upaya memimpin. "Kasih Kristus" sebagai dinamika kepemimpinan Kristen memberi sifat reformatif dan transformatif bagi kepemimpinan Kristen. Dinamika kepemimpinan Kristen ini mengubah dan memperbaharui hidup, serta meneguhkan paradigma sebagai dasar bagi perspektif positif yang membangun (Matius 20:24-27; Markus 10:41-44). Dinamika kepemimpinan berlandaskan kasih Yesus Kristus di atas, sekaligus merupakan landasan yang memberikan kekuatan moral. Kekuatan moral inilah yang menyemangati kinerja kepemimpinan sehingga kepemimpinan Kristen memiliki jaminan akan adanya keberhasilan yang nyata (band. Matius 9:35-38 tentang belas kasih Yesus Kristus yang tidak pandang bulu).[7]
GURU
Tokoh Pendidikan Indonesia “Ki Hajar Dewantara” menanamkan filosofi pendidikan di Indonesia yaitu “Ing Ngarso ing Tulodho, Ing Madya Mangun Karso, Tut Wuri Handayani”.  Filosi ini tertulis di topi anak-anak pelajar seluruh negeri ini dari TK-SD-SMP-SMA. Makna tulisan tersbut tertuju kepada setiap mata yang membacanya.
Apabila di kaji lebih dalam makna arti tulisan tersebut bisa menjadi acuan hidup manusia terutama para pengajar. Arti dari filosofi tersebut ialah “Di depan menjadi teladan, di tengah menjadi penggerak, di belakang menjadi pendorong”. Dari filosofi ini terlihat jelas bahwa seorang guru itu memposisikan dirinya seperti demikian. Jikalau di kolerasikan dengan peran seorang pemimpin dalam suatu organisasi ini memiliki kesamaan. Dunia awam juga mengartikan bahwa “guru” itu berarti “di gugu lan di tiru” di dengarkan dan di contoh.
Tugas yang mulia terletak dipunda para guru-guru baik itu guru secara umum maupun guru PAK. Akan tetapi guru PAK itu lebih berporos pada nilai-nilai agama Kristen. Tidak sedikit guru PAK baik di gereja tidak menerapkan yang menjadi filosofi dari Ki Hajar Dewantoro ini. Semestinya para guru PAK juga mengaplikasikan filosofi tersebut karena menurut hemat penulis filosofi tersebut rasional dan tidak bertentangan dengan ajaran Yesus. Dalam pengajaranya Yesus juga menekankan ketiga hal yang terdapat dalam filosofi dari Ki Hajar Dewantoro. Bahkan filosofi pengajaran Yesus jauh lebih sempurna yaitu berporos pada “kasih ilahi” (Mat. 22:37-40).
A.    Pengertian Guru PAK
Dalam sejarah Rencana Keselamatan Allah tidak terlepas dari yang namanya pemimpin-pemimpin yang mengajarkan umat Tuhan. Diantaranya Abraham, Ishak, Yakub, Musa, Yosua, Petrus, Yesus, Para Rasul, dll. Inti yang dilakukan oleh pemimpin-pemimpin yang namanya tercantum didalam Alkitab itu ialah memberikan pengajaran. Dengan kata lain mereka juga memberikan pengajaran yang bersumber pada Allah. Meskipun pengajaran beberapa tokoh Perjanjian Lama tidak dilakukan sepertti halnya kelas formal seperti di sinagoge, tetapi ada pengajaran yang penting  salah satunya “ketaatan terhadap Allah” seperti yang dilakukan Yosua ketika merebut tanah Kanaan.
Umat Tuhan pada masa sekarang ini terus berkembang dan tidak hanya ada di satu Negara saja. Tetapi mereka telah terhimpun didalam gereja ataupun lembaga-lembaga sekolahan / pelatihan / panti asuhan formal dan non formal. Semakin tersebarnya para pengikut Kristus ini secara otomatis diperlukan banyak pemimpin untuk mengajar mereka tentang Alkitab. Dalam hal ini banyak diperankan oleh guru, baik dalam gereja ataupun diluar gereja termasuk sekolahan.  
Didalam gereja peran guru sebagai pengajar itu merupakan sarana untuk membawa para umat Tuhan tetap berjalan dalam terang kasih-Nya. Guru sekolah minggu memiliki tanggung jawab untuk mengajar anak-anak kecil yang notabene tetaplah umat Tuhan. Sepertinya sepele akan tetapi pengajaran dalam sekolah minggu ini merupakan fondasi dasar bagi anak untuk mengenal pribadi Yesus. Dengan kata lain guru sekolah memiliki tanggung jawab memimpin para anak-anak kepada Tuhan. Samahalnya dengan para guru yang mengajar disekolah-sekolah formal. Mereka juga menjadi pemimpin para murid-muridnya.
B.     Tugas dan tanggung jawab
Guru memiliki tugas dan tanggung jawab yang besar dan memikul tugas yang mulia. Guru dipanggil untuk memberikan pengajaran.
1.      Menjadi penafsir iman Kristen. Guru yang menguraikan dan menerangkan kepercayaan Kristen itu, karena ia harus menyampaikan harta-harta dari masa lampau kepada para pemuda yang akan menempuh masa depan. Dialah yang mengambil harta benda Kabar Kesukaan itu dari perbendaharaan gereja, lalu membagikannya kepada murid-muridnya. Perkara-perkara yang lama itu dibuatnya menjadi baru. Ia membentangkan di hadapan angkatan muda jemaat segala kekayaan didalam Alkitab.
2.      Guru menjadi seorang gembala bagi murid-muridnya. Ia bertanggung jawab atas hidup rohani mereka; ia wajib membina dan memajukan hidup rohani itu. Tuhan Yesus sudah menyuruh dia. “Peliharakanlah segala anak domba-Ku!” Sebab itu seharusnyalah seorang guru mengenal tiap-tiap muridnya; bukan nama saja, melainkan latar belakangnya dan pribadinya. Ia harus mencintai mereka dan mendoakan mereka masiing-masing takhta Tuhan.
3.      Guru menjadi seorang pedoman dan pemimpin . Ia tidak boleh menuntun muridnya masuk ke dalam kepercayaan Kristen dengan paksaan, melainkan ia harus membimbing mereka dengan halus dan lemah lembut menarik orang kepada Kristus; hendaknya ia mencerminkan roh Kristus dalam seluruh pribadinya.
4.      Guru adalah seorang penginjil, yang bertanggung jawab atas penyerahan diri setiap orang pelajarnya kepada Yesus Kristus. Belum cukup jika hanya memberikan kepada murid hanya bertumpu pada pengetahuan semata. [8]
C.     Syarat-Syarat Menjadi Guru PAK
1.      Lahir Baru. Ini merupakan syarat mutlak yang tidak bisa dipungkiri, sebab untuk mengenal Tuhan Yesus modal awalnya ialah lahir baru yang merupakan buah dari iman percaya kepada juru selamat.
2.      Memiliki pengetahuan yang luas dan mendalam tentang Alkitab yang dibingkai dalam hubungan yang intim dengan Tuhan. Apabila tidak memiliki kedua hal ini bagaimana guru bisa mengajarkan tentang Firman  Tuhan yang hakekatnya merupakan pikiran dan ungkapan isi hati Allah. Akan tetapi tentunya tetap harus ada hubungan yang baik dengan Allah seperti yang tertera didalam 2 Ptr. 1:20 “bahwa Alkitab tidak boleh di tafsirkan dengan asal-asalan”.
3.      Memiliki motivasi yang benar. Motivasi ini hanya dapat diketahui oleh Allah sendiri, manusia hanya bisa menafsirkan melalui perilaku dan lain-lain. Motivasi yang dimaksud disini guru melakukan tugas tanggung jawabnya berdasarkan rasa cintanya kepada Tuhan Yesus.
4.      Memahami bahwa panggilannya menjadi guru adalah rahmat Allah. Dalam Ef. 4:11-12 dan Roma 12:7 terlihat jelas bahwa karunia guru adan keguruan yang diberikan Allah bukanlah kelas 2 atau kelas 3. Akan tetapi sama dengan nabi, gembala, rasul, penginjil[9]. Apabila guru PAK menyadari hal ini tentulah tugasnya tidak dilakukan dengan segenap hati.  
5.      Memiliki dan memelihara komitmen (penyerahan) hidup kepada Yesus Kristus yang merupakan sentral  dalam perjalanan iman setiap orang percaya. Karena itu guru perlu memiliki komitmen hidup yang jelas, yakni “hidup bagi Yesus” (Flp. 1:21-22; 3:10; 4:13).[10]
6.      Senantiasa berupaya meningkatkan pengetahuan dan keterampilan mengajar atas dasar motivasi yang jujur dan komitmen hidup kepada Allah. [11]
7.      Mengerti dan memahami konsep psikologi. Manusia terdiri dari tiga bagian yang dijadikan satu dalam wujud manusia. Tubuh, jiwa, dan roh. Tubuh dapat dipenuhi kebutuhannya dengan makan, minum, dan lain-lain. Roh kebutuhannya dapat dipenuhi dengan perenungan Firman Tuhan. Akan tetapi jiwa ini lain dengan roh dan tubuh, jiwa ini hanya dapat dipenuhi kebutuhannya dengan sentuhan, pendekatan intinya dengan pendekatan yang psikologis.
8.      Memahami konsep teori-teori belajar. Begitu banyak teori belajar yang tercipta di dunia ini, akan tetapi paling sedikit 5 teori belajar guru bisa mengusai. 
KESIMPULAN
            Melihat dalam Bab III dan Bab IV terlihat bahwa jiwa kepemimpin Kristen ini sangat diperlukan dalam proses pembelajaran. Apabila dillihat dari tugas dan tanggung jawab guru terdapat juga perihal “memimpin”. Logikanya guru PAK mengajar beberapa orang yang diarahkan pada satu tujuan yaitu Kristus. Dalam mengarahkan itu diperlukan jiwa kepemimpinan itu sendiri.
            Pemimpin memiliki tugas untuk mengarahkan, mengkoordinir, menyatukan anggotanya. Demikian juga dengan guru juga memiliki tugas yang sama, tapi tanpa memiliki jiwa kepemimpinan tentunya guru akan mengalami kesulitan dalam mengarahkan murid-muridnya.
            Jadi pengaruh peranan jiwa kepemimpinan dalam proses belajar mengajar itu sangatlah penting.



[1] The Servant King. Gunawan Hartono, S.Th, MMP. (Kota : Sidoarjo, JA-TIM. Elijah.).hal 53
[3] Materi Pelatihan Kepemimpinan Keterampilan Manajerial SPMK – Januari 2003
[5] Ibid
[7] Kepemimpinan Kristen: Mencari Format Kepemimpinan Gereja yang Kontekstual di Indonesia, Dr. Yakob Tomatala, , Artikel Christ the Master Teacher, halaman 42 -- 46, YT Leadership Foundation. http://pepak.sabda.org/pustaka/071479/

[8] Pendidikan Agama Kristen. Dr. E. G. Homrighausen & Dr. I. H. Enklaar. (Kota : Jakarta. Penerbit : PT. BPK. GUNUNG MULIA). Hal. 164-165
[9] Strategi Pendidikan Kristen. B. Samuel Sidjabat. (kota : Yogyakarta. Penerbit ANDI.) hal. 249
[10] Ibid hal. 249
[11] Ibid hal. 249

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar